Bukan Sekadar Mpls Ini Langkah Pertama Murid Baru Menemukan Keluarganya Di Assyifa

Bukan Sekadar MPLS, Ini Langkah Pertama Murid Baru Menemukan Keluarganya di Assyifa

Bukan Sekadar MPLS, Ini Langkah Pertama Murid Baru Menemukan Keluarganya di Assyifa

Tasikmalaya, 18 Juli 2026 — Apa yang sebenarnya dicari seorang murid ketika pertama kali memasuki sekolah baru? Gedung yang megah? Ruang kelas? Teman baru? Atau sekadar mengetahui di mana mereka harus belajar setiap hari?

Di Assyifa, jawabannya lebih dari itu.

Selama enam hari, 13–18 Juli 2026, murid baru SMP-SMA Plus Assyifa Boarding School diajak memasuki sebuah pengalaman yang tidak sekadar mengenalkan lingkungan sekolah, tetapi menjadi langkah pertama untuk mengenal budaya, nilai, potensi diri, dan keluarga baru tempat mereka akan tumbuh. Pengalaman tersebut hadir melalui Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Pancawaluya Tahun Pelajaran 2026/2027.

MPLS Assyifa

Sejak hari pertama, suasana MPLS Assyifa dirancang untuk menghadirkan pengalaman yang berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), dan menggembirakan (joyful). Karena bagi Assyifa, mengenalkan sekolah kepada murid baru bukan hanya tentang menunjukkan ruang kelas, lapangan, fasilitas, atau menjelaskan aturan. Yang jauh lebih penting adalah membantu mereka menjawab satu pertanyaan sederhana: “Seperti apa keluarga baru yang akan menjadi bagian dari perjalanan hidup saya di Assyifa?”

Pelaksanaan MPLS Pancawaluya Assyifa berpedoman pada Keputusan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tasikmalaya Nomor 115 Tahun 2026 tentang Petunjuk Teknis MPLS Tahun Pelajaran 2026/2027 serta Panduan MPLS Pancawaluya Jawa Barat Tahun 2026. Kegiatan ini diarahkan untuk mengenali potensi murid baru agar dapat dikembangkan secara optimal, memperkenalkan budaya dan lingkungan Assyifa, membangun interaksi positif dengan warga sekolah, serta memberikan gambaran mengenai kurikulum dan berbagai pengalaman pembelajaran yang akan mereka jalani.

MPLS tersebut dipanitiai oleh Dewan Guru dengan Daud Pandika, S.Pd., Gr., selaku Waka Kesiswaan, sebagai Ketua Panitia. Sejak awal, seluruh rangkaian kegiatan dirancang bukan sebagai kegiatan seremonial semata, tetapi sebagai pengalaman pendidikan yang mampu menyentuh aspek pengetahuan, karakter, sosial, emosional, kreativitas, kepedulian, hingga kesiapan murid menghadapi kehidupan di lingkungan baru.

Pembukaan MPLS dilakukan secara langsung oleh Bangbang Bahrul Mutakin, M.Pd., Gr., selaku Kepala Sekolah, yang ditandai dengan penyematan tanda peserta dan pengguntingan pita sebagai simbol dimulainya perjalanan murid baru di lingkungan Assyifa.

Dalam sambutannya, Kepala Sekolah mengajak murid baru untuk melihat MPLS sebagai awal dari perjalanan yang lebih besar.

“Selamat datang di keluarga besar Assyifa. MPLS bukan sekadar kegiatan untuk mengenal gedung, guru, teman, maupun program sekolah. Lebih dari itu, MPLS adalah langkah pertama untuk mengenal diri sendiri, menemukan potensi, membangun karakter, dan belajar menjadi bagian dari lingkungan yang saling menghargai. Jadilah murid yang Cageur, Bageur, Bener, Pinter, dan Singer. Tumbuhkan rasa ingin tahu, keberanian untuk belajar, kepedulian kepada sesama, serta semangat untuk terus berkembang.”

Pesan tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam berbagai aktivitas yang membuat murid tidak hanya duduk mendengarkan, tetapi bergerak, berinteraksi, bertanya, mencoba, bekerja sama, dan mengalami secara langsung kehidupan di Assyifa.

MPLS Assyifa

Mereka diperkenalkan dengan Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7KAIH) Versi Jawa Barat, pertemuan pagi ceria, budaya Senyum, Salam, Sapa, Sopan, dan Santun (5S), serta pembiasaan hidup bersih dan sehat. Berbagai pembiasaan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun karakter sejak awal, sehingga nilai-nilai positif tidak hanya dipahami sebagai materi, tetapi perlahan menjadi kebiasaan.

Murid baru juga diajak mengenal Wawasan Wiyatamandala, mulai dari visi, misi, dan tujuan Assyifa, sarana dan prasarana, lingkungan belajar, akses keamanan dan kesehatan, kondisi lingkungan sekitar, hingga budaya yang menjadi identitas sekolah.

Di sinilah murid mulai menemukan bahwa Assyifa bukan hanya tempat untuk belajar mata pelajaran. Assyifa adalah ruang tumbuh tempat mereka akan membangun pertemanan, mengembangkan bakat, menghadapi tantangan, belajar mengambil keputusan, berlatih bertanggung jawab, dan menemukan berbagai kemungkinan masa depan.

Pengenalan lingkungan pun tidak dilakukan dengan cara biasa.

Untuk membuat pengalaman tersebut lebih dekat dan berkesan, murid baru diajak mengikuti penjelajahan lingkungan Assyifa. Beberapa pos disiapkan dan dipandu langsung oleh Dewan Guru. Dari satu pos ke pos berikutnya, murid berinteraksi, bekerja sama, menyelesaikan aktivitas, sekaligus mengenal lebih mendalam budaya Pancawaluya.

Tawa, rasa penasaran, semangat, dan kebersamaan menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Batas antara “murid baru” dan “warga sekolah” perlahan mulai mencair. Guru yang sebelumnya mungkin terasa asing mulai dikenal. Teman yang sebelumnya belum pernah ditemui mulai menjadi rekan. Lingkungan yang sebelumnya belum familiar mulai terasa seperti tempat yang akan mereka sebut sebagai rumah kedua.

Semangat tersebut sejalan dengan konsep pembelajaran yang menjadi ruh kegiatan MPLS Assyifa: berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.

MPLS Assyifa

Namun, di balik suasana yang penuh kegembiraan, MPLS Assyifa tetap memberikan bekal yang serius untuk menghadapi kehidupan murid di masa kini.

Murid mendapatkan pengenalan mengenai perilaku damai, etika bermedia sosial, pendidikan dasar bela negara dan wawasan kebangsaan, serta berbagai kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler. Mereka juga dikenalkan dengan OSIS dan berbagai organisasi serta kegiatan pengembangan diri yang tersedia di lingkungan Assyifa.

Materi tersebut disampaikan oleh orang-orang yang kompeten di bidangnya dengan melibatkan berbagai unsur, termasuk pengawas sekolah, Koramil, dan Polsek Cikalong. Kehadiran berbagai pihak tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan karakter tidak dapat berjalan sendiri. Sekolah, keluarga, masyarakat, dan berbagai unsur terkait memiliki tanggung jawab bersama dalam menyiapkan generasi yang memiliki pengetahuan sekaligus karakter.

Di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi, pengenalan etika bermedia sosial menjadi semakin penting. Murid tidak hanya diarahkan untuk mampu menggunakan teknologi, tetapi juga memahami bagaimana menjadi pengguna teknologi yang bertanggung jawab, menghormati orang lain, menjaga komunikasi, serta mampu mempertimbangkan dampak dari setiap tindakan di ruang digital.

Mereka juga mendapatkan pengalaman melalui pendidikan dan aksi ekologi, sebuah pengingat bahwa menjadi manusia terdidik berarti memiliki kepedulian terhadap lingkungan tempat hidupnya.

Seluruh pengalaman tersebut kemudian dipertemukan dalam semangat Pancawaluya: Cageur, Bageur, Bener, Pinter, dan Singer.

Cageur hadir melalui kepedulian terhadap kesehatan dan kebersihan. Bageur tumbuh melalui sikap ramah, santun, peduli, dan menghargai sesama. Bener dibangun melalui integritas, disiplin, tanggung jawab, dan keberanian melakukan hal yang benar. Pinter dikembangkan melalui rasa ingin tahu, kemampuan belajar, dan pengembangan potensi. Sementara Singer diwujudkan melalui kecakapan, kepekaan, ketangkasan, dan kesiapan mengambil peran.

Bagi Assyifa, Pancawaluya bukan sekadar tema yang ditempelkan pada sebuah kegiatan. Nilai-nilai tersebut diupayakan menjadi bagian dari budaya yang hidup dalam keseharian murid.

Ketua Panitia MPLS Pancawaluya Assyifa, Daud Pandika, S.Pd., Gr., menegaskan bahwa kegiatan dirancang agar murid memperoleh pengalaman pertama yang berkesan sekaligus memiliki makna pendidikan.

“Kami ingin MPLS menjadi pengalaman pertama yang berkesan bagi murid baru. Mereka datang dengan latar belakang, potensi, dan karakter yang berbeda. Karena itu, kami merancang kegiatan yang tidak hanya mengenalkan sekolah, tetapi juga memberikan ruang bagi mereka untuk berinteraksi, bekerja sama, berani mencoba, mengenali potensi, dan mulai memahami budaya Assyifa. Semuanya kami kemas dengan semangat berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.”

Ia menambahkan bahwa tantangan sebenarnya bukanlah membuat murid menghafal lima nilai Pancawaluya, melainkan membantu mereka mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.

“Kami berharap setelah mengikuti MPLS, murid tidak hanya hafal Cageur, Bageur, Bener, Pinter, dan Singer, tetapi mulai mempraktikkannya. Itulah yang menjadi tantangan sekaligus tujuan utama kami.”

MPLS Assyifa

Dari sisi orang tua, rangkaian MPLS juga mendapat respons positif. Salah seorang orang tua murid menilai pengalaman awal yang positif sangat penting agar anak mampu beradaptasi dengan lingkungan sekolah barunya.

“Kami melihat anak-anak mengikuti MPLS dengan antusias. Bagi kami sebagai orang tua, hal yang penting bukan hanya anak mengenal sekolah, tetapi mereka merasa diterima, aman, dan nyaman. Kami berharap pembiasaan yang diperkenalkan selama MPLS dapat terus berlanjut dalam keseharian mereka di Assyifa maupun di rumah.”

Dukungan juga diberikan terhadap penguatan nilai Pancawaluya dalam kegiatan.

“Cageur, Bageur, Bener, Pinter, dan Singer merupakan nilai yang sangat baik untuk dikenalkan sejak awal. Kami berharap sekolah dan orang tua dapat terus berjalan bersama agar nilai tersebut benar-benar menjadi kebiasaan anak.”

Sementara itu, dari perspektif pengawasan pendidikan, pelaksanaan MPLS yang edukatif dan berorientasi pada karakter dinilai menjadi bagian penting dalam membantu murid beradaptasi dengan lingkungan sekolah.

“MPLS seharusnya menjadi pintu masuk bagi murid untuk mengenal lingkungan sekolah secara positif. Ketika kegiatan dirancang secara edukatif, menyenangkan, dan berorientasi pada pembentukan karakter, murid akan lebih mudah beradaptasi dan merasa menjadi bagian dari sekolah. Kami mengapresiasi upaya Assyifa mengintegrasikan nilai Pancawaluya dengan budaya sekolah dan kegiatan pembelajaran.”

Pengawas juga mengingatkan bahwa keberhasilan MPLS tidak diukur hanya dari enam hari pelaksanaan.

“Nilai yang diperkenalkan selama MPLS tidak boleh berhenti pada kegiatan MPLS. Tantangan berikutnya adalah bagaimana sekolah menjaga konsistensi pembiasaan tersebut dalam pembelajaran dan kehidupan sehari-hari, dengan dukungan keluarga dan seluruh warga sekolah.”

Pesan tersebut menjadi penting karena pendidikan karakter memang tidak selesai ketika tanda peserta MPLS dilepas. Justru setelah MPLS berakhir, proses sesungguhnya baru dimulai.

Enam hari berlalu. Murid yang pada hari pertama datang dengan wajah penuh rasa ingin tahu, sebagian masih canggung, perlahan mulai menunjukkan keberanian, keceriaan, dan rasa percaya diri. Mereka telah mengenal ruang belajar, guru, teman, organisasi, kegiatan, budaya, aturan, lingkungan, serta nilai yang akan menjadi bagian dari perjalanan mereka.

Hingga akhirnya tiba pada 18 Juli 2026.

Rangkaian MPLS Pancawaluya Assyifa resmi ditutup secara langsung oleh Bangbang Bahrul Mutakin, M.Pd., Gr., selaku Kepala Sekolah. Penutupan ditandai dengan penanggalan tanda peserta, penyematan secara simbolis, pemasangan badge sekolah, serta penerbangan balon udara.

Jika pada hari pertama penyematan tanda peserta menjadi simbol “selamat datang”, maka pada hari terakhir penanggalan tanda peserta menjadi simbol bahwa murid telah melewati satu tahap awal dan siap memasuki perjalanan pendidikan yang sesungguhnya sebagai bagian dari keluarga besar Assyifa.

Dalam sambutan penutupan, Kepala Sekolah menyampaikan pesan yang menjadi pengingat bagi seluruh murid baru.

“Hari ini tanda peserta MPLS kita lepaskan, tetapi nilai dan semangat yang sudah kita bangun jangan pernah dilepaskan. Mulai hari ini, kalian bukan lagi sekadar murid baru. Kalian adalah bagian dari keluarga besar Assyifa. Jadilah pribadi yang Cageur dalam menjaga diri, Bageur dalam memperlakukan sesama, Bener dalam mengambil keputusan, Pinter dalam belajar dan berpikir, serta Singer dalam bertindak dan berkontribusi.”

Ia juga mengajak murid menjadikan Assyifa sebagai ruang untuk bertumbuh dan menemukan masa depan.

“Gunakan waktu kalian di Assyifa untuk belajar, bertumbuh, berkarya, dan memberikan manfaat. Jangan takut untuk bermimpi besar, tetapi iringi mimpi itu dengan karakter, kedisiplinan, tanggung jawab, dan doa. Kami ingin melihat kalian bukan hanya berhasil secara akademik, tetapi menjadi manusia yang unggul, berbudaya, berkarakter, akuntabel, dan religius.”

Kalimat tersebut sekaligus mengikat seluruh rangkaian MPLS dengan visi Assyifa, Unggul Berbudaya, Berkarakter, Akuntabel, Religius (UBBAR).

Sebab pada akhirnya, pendidikan di Assyifa bukan hanya tentang seberapa banyak pengetahuan yang berhasil dikuasai seorang murid. Lebih jauh dari itu, pendidikan adalah tentang manusia seperti apa yang sedang dibentuk.

Murid yang unggul tetapi tetap berbudaya. Murid yang berprestasi tetapi tetap berkarakter. Murid yang mampu mempertanggungjawabkan pilihan dan tindakannya. Murid yang memiliki kecakapan menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan nilai religius dan kemanusiaannya.

MPLS Assyifa

Di titik inilah semangat Pancawaluya dan visi Assyifa bertemu.

Cageur, Bageur, Bener, Pinter, dan Singer bukan hanya lima kata yang diperkenalkan kepada murid baru selama MPLS. Kelimanya adalah ajakan untuk menjalani pendidikan secara utuh.

Dan ketika balon udara dilepaskan ke langit pada penghujung MPLS, ada sebuah pesan yang ikut diterbangkan bersamanya: bahwa setiap murid datang membawa mimpi, potensi, dan harapan masing-masing.

Tugas Assyifa adalah membantu mereka menemukan arah, menumbuhkan keberanian, membangun karakter, dan memberikan ruang agar mimpi tersebut dapat tumbuh.

Karena MPLS mungkin hanya berlangsung enam hari, tetapi perjalanan menjadi bagian dari keluarga Assyifa baru saja dimulai.

Selamat datang di Assyifa.

Cageur. Bageur. Bener. Pinter. Singer.

Tumbuh bersama Assyifa, menjadi pribadi Unggul Berbudaya, Berkarakter, Akuntabel, dan Religius.

Seluruh rangkaian kegiatan dan cerita perjalanan MPLS Pancawaluya Assyifa 2026 juga didokumentasikan dan dipublikasikan melalui kanal media sosial resmi Assyifa, meliputi Facebook, Instagram, TikTok, dan YouTube, sebagai bagian dari dokumentasi perjalanan pendidikan dan sarana berbagi informasi kepada orang tua, keluarga besar Assyifa, serta masyarakat luas.

Tuliskan Komentar Anda